Tuesday, August 25, 2020

九牛一毛 (jiǔ niú yì máo) - Sembilan Sapi dan Sehelai Bulu Sapi

 


九牛一毛 
(jiǔ niú yì máo)
Sembilan Sapi dan Sehelai Bulu Sapi

Li Ling, seorang jenderal terkenal pada masa pemerintahan Kaisar Wu dari Dinasti Han (206 SM-220 M), memimpin pasukannya untuk menyerang Hun. Jenderal itu memenangkan banyak pertempuran setelah menembus wilayah Hun, tetapi kemudian gagal dan menyerah setelah pasukannya diserang oleh pasukan Hun. Mendengar berita itu, Kaisar Wu merasa kesal, dan para menteri juga mencap Li Ling tidak mampu dan tidak setia.

Sima Qian, seorang sejarawan terkenal dalam sejarah Tiongkok, tidak berkata-kata sementara yang lain menyalahkan Li Ling dengan kejam. Kaisar Wu bertanya bagaimana pendapat dia tentang kegagalan Li Ling. Sima Qian berkata dengan jujur : “Li Ling hanya memiliki 5.000 infanteri tetapi dikepung oleh 80.000 kavaleri; bahkan dalam menghadapi kesulitan seperti itu, Jenderal Li masih berperang melawan Hun selama lebih dari sepuluh hari, dan membunuh lebih dari 10.000 tentara musuh; jadi dia benar-benar seorang jenderal yang luar biasa; akhirnya, Jenderal Li harus berhenti bertempur ketika dia persediaan perang nya telah habis; Li Ling mungkin harus berpura-pura menyerah untuk menunggu kesempatan setia kepada bangsa. 

Mendengar pejabat sejarawan itu membela jenderal yang gagal itu, Kaisar sangat marah dan memenjarakannya. Untuk menyanjung kaisar, Du Zhou, pejabat tertinggi pengadilan, mengatakan Sima Qian bersalah karena telah menjebak kaisar dan dijatuhakn hukuman paling kasar dan paling hina yaitu Fuxing (pengebirian) pada Sima Qian. Setelah menderita hukuman yang sangat hina itu, Sima Qian sangat terluka dan sakit hati sehingga dia ingin bunuh diri. Namun, ia mengurungkan niatnya, karena ia sadar jika ia mati, maka kematiannya ibarat “9 Sapi dan Sehelai Bulu Sapi” di mata banyak orang, dan tidak ada yang peduli, bukannya mendapat simpati, yang ada malah diejek. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk hidup walaupun dengan penuh penghinaan dan mewujudkan mimpinya dan Ayahnya yaitu membuat sebuah Shi Ji (Catatan Sejarah). Pada akhirnya, ia menyelesaikan mahakarya sejarah terbesar (Shiji) tersebut di Tiongkok dengan tubuhnya yang cacat.

*pepatah ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat kecil, seperti perbandingan antara sehelai bulu sapi dengan sembilan sapi.


No comments:

Post a Comment